Tampilkan postingan dengan label nuklir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nuklir. Tampilkan semua postingan

22 Maret 2011

Radiasi Radioaktif terdeteksi di selatan PLTN Fukushima di wilayah laut

Osaka - Zat radioaktif terdeteksi di wilayah perairan laut sekitar lokasi PLTN Fukushima, Jepang. Namun, zat radioaktif yang terdeteksi cukup tinggi ini dinilai tidak terlalu membahayakan.

Zat ini terdeteksi dalam pemeriksaan sampel air laut yang diambil dari lokasi sekitar 100 meter sebelah selatan reaktor nuklir nomor 1 di Fukushima. Pihak operator Tokyo Electric Power Co (TEPCO) seperti dilansir AFP, Selasa (22/3/2011) menyatakan, hal itu tidak akan menjadi ancaman bagi kesehatan manusia.

"Secara normal, zat radioaktif tidak akan terdeteksi di wilayah tersebut," ujar salah satu pejabat TEPCO, Naoki Tsunoda.

Tsunoda juga menyatakan, TEPCO akan terus memonitor temuan ini baik di wilayah yang sama maupun di wilayah lainnya.

Dijelaskan dia, tingkat yodium-131 ​yang terdeteksi 126,7 kali lebih tinggi dan cesium-134 yang terdeteksi 24,8 kali lebih tinggi dari standar yang ditetapkan pemerintah. Kemudian tingkat cesium-137 juga 16,5 kali lebih tinggi, sedangkan kadar kobalt-58 lebih rendah dari standar.

Gempa berkekuatan 9 Skala Richter dan tsunami yang menerjang wilayah timur laut Jepang pada 11 Maret lalu telah menghancurkan sistem pendingin di PLTN Fukushima. Akibatnya, Jepang pun berada di ambang krisis bencana nuklir. Pemerintah berupaya keras untuk mengatasi hal ini, bahkan helikopter dan truk pemadam kebakaran dikerahkan untuk menuangkan air di pemanasan batang bahan bakar yang ada di PLTN sejak Kamis (17/3) lalu.


sumber : detiknews

17 Maret 2011

Jepang berusaha menghidupkan kembali PLTN Fukushima,AS mengerahkan para pakarnya untuk memonitor radiasi nuklir

pltn-fukushima-bocor

Pasca gempa dan tsunami, listrik di Jepang mati akibat kerusakan di pembangkit listrik tenaga nuklir . Saat ini sejumlah pekerja diturunkan untuk mengembalikan pasokan listrik.

Para insinyur Jepang memfokuskan usaha mereka untuk memulihkan pasokan listrik ke PLTN yang rusak akibat gempa agar bisa mengaktifkan sistem pendingin. Gempa besar dan tsunami pada 11 Maret 2011 membuat ledakan pada power supply dan generator back-up (genset) di PLTN Fukushima.

Kurangnya daya listrik mengakibatkan temperatur dalam reaktor melonjak dan batang bahan bakar yang berfungsi sebagai pendingin air menguap, memancarkan gas hidrogen dan bahan radioaktif yang memicu kebocoran dan lelehan.

Operator Pasokan Tenaga Listrik Tokyo mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan untuk memulihkan jaringan listrik yang menghubungkan ke sistem transmisi. "Saat ini, kami berkonsentrasi pada upaya pekerjaan ini," kata juru bicara Naohiro Omura seperti dikutip dari AFP, Kamis (17/3/2011).

"Jika pekerjaan restorasi selesai, kita akan dapat mengaktifkan berbagai pompa listrik dan menuangkan air ke dalam reaktor dan tabung untuk membuat bahan bakar nuklir bekas," jelasnya.

Para kru Jepang terus bergulat untuk menyelesaikan tugasnya dengan ancaman seperti kecelakaan nuklir Chernobyl pada tahun 1986. Sebelumnya mereka berpendapat, ledakan terbaru dikhawatirkan berdampak pada kerusakan wadah yang yang merupakan salah satu dari enam pembangkit reaktor inti.

Sebelumnya, uap putih keluar dari reaktor unit 3 PLTN Fukushima Daiichi pada Rabu (16/3/2011). Uap itu diduga karena kolam bahan bakar yang panas sehingga memproduksi uap. Militer Jepang pun siap menyiramkan air dengan helikopter


Jepang dalam keadaan darurat nuklir. Amerika Serikat akan memonitor langsung tingkat radiasi di Jepang dengan menggunakan peralatan dan pakar-pakarnya sendiri.

Duta Besar (Dubes) AS untuk Jepang John Roos mengatakan, 34 pakar telah tiba di negeri itu dengan membawa peralatan monitoring darat dan udara.

Para pakar itu akan bergabung dengan tujuh pakar dari Komisi Regulator Nuklir AS, dua teknisi dan pakar-pakar bahaya kesehatan dari Departemen Energi AS yang telah berada di Jepang menyusul bencana gempa bumi dan tsunami pekan lalu.

"Kami mengerahkan semua kemampuan karena ada krisis yang tengah berlangsung dan penting untuk memberikan sebanyak mungkin bantuan kepada Jepang, dan apalagi ada warga negara kita di Jepang ini," ujar Roos seperti dilansir AFP, Kamis (17/3/2011).

Roos membantah langkah tersebut diambil karena kurangnya kepercayaan akan kemampuan Jepang menyangkut radiasi nuklir ini.

"Kesehatan dan keselamatan warga negara AS di Jepang tentunya menjadi perhatian terbesar kami, jadi yang penting, bukan soal kurangnya kepercayaan akan data yang diberikan, namun fakta bahwa kita punya kemampuan besar yang kita kerahkan di sini di Jepang," tegas Roos.


sumber : detiknews

15 Maret 2011

Bencana Nuklir Chernobyl bencana terbesar di dunia

tragedi-chernobyl-ukraina-26-april-1986

Warga Jepang khawatir krisis di PLTN Fukushima akan berujung pada tragedi seperti Chernobyl pada 1986 silam. Seperti apa tragedi Chernobyl sebenarnya?

Ledakan nuklir di Chernobyl, Ukraina, terjadi pada 26 April 1986, dimana reaktor keempat meledak pada pukul 01.23 dini hari. Ledakan itu diikuti kebakaran hebat yang menyebarkan gelombang radiasi ke wilayah Eropa. Tak ada penjelasan mengenai penyebab ledakan, selain klaim adanya sebuah eksperimen yang juga tak dijelaskan terperinci.

Tragedi ini menyebabkan kontaminasi radiasi meluas di Ukraina, hingga sampai ke Belarus dan Rusia. Butuh dua hari bagi Uni Soviet untuk membeberkan informasi mengenai ledakan ini kepada publik. Tragedi ini juga membuka mata dunia, melalui Badan Energi Atom Internasional (IAEA), bahwa dunia perlu menjalin kerjasama dan berbagai informasi dalam penggunaan energi nuklir.

Hingga saat ini, rehabilitasi untuk korban-korban Chernobyl masih terus berlanjut. Rusia, Ukraina dan Belarus masih terus dibebani dengan biaya dekontaminasi dan perawatan kesehatan bagi korban. Korban tewas tragedi ini 50 orang, terdiri dari para staf reaktor dan tim penyelamat.

Namun dampak dari paparan radiasi Chernobyl sangat luas. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sembilan ribu orang terkena radiasi. Sedangkan aktivis lingkungan hidup Greenpeace menyatakan jumlah yang terpapar mencapai 93 ribu orang. Mereka mengalami berbagai penyakit seperti kanker dan bayi-bayi dilahirkan cacat karena mutasi gen.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengevakuasi ratusan ribu orang, meski dinyatakan sekitar tujuh juta jiwa masih hidup di wilayah berbahaya karena tingkat radiasinya di atas batas aman. Reaktor terakhir ditutup pada 2000 lalu, 14 tahun setelah tragedi


Agensi nuklir Jepang memastikan status reaktor nuklir Jepang pascagempa bumi (11/3) tak seperti Chernobyl di Rusia yang membocorkan materi radioaktif dalam jumlah besar.

“Tak ada kemungkinan yang terjadi di PLTN Fukushima akan sama seperti Chernobyl,” tutur ketua badan nuklir Jepang Koichiro Genba, mengingat ledakan yang terjadi di reaktor nuklir PLTN tersebut, kemarin. Meski begitu, rakyat khawatir terjadi bencana besar terkait kebocoran nuklir.

Sementara ilmuwan dan teknisi berjuang keras mengendalikan dua reaktor yang terlalu panas (overheating), di fasilitas yang usianya sudah menginjak empat dekade itu. Beberapa saat sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Naoto Kan mengumumkan keadaan darurat di reaktor tersebut.

Ledakan di reaktor nomor dua PLTN tersebut melukai enam pekerja dan empat serdadu, serta terlihat asap putih membubung tinggi. Diperkirakan ledakan itu disebabkan oleh timbunan hidrogen. Sehari setelah gempa, terjadi ledakan di reaktor nomor satu.

Dilaporkan 22 orang terkontaminasi radiasi akibat ledakan itu dan kemungkinan besar 190 lainnya terekspos, meski belum diketahui seberapa parah. Air laut saat ini digunakan untuk mendinginkan reaktor agar tidak meledak dan melepaskan materi radioaktif berbahaya ke udara.

Tragedi Chernobyl terjadi pada 26 April 1986 di PLTN Chernobyl, Ukraina dan dikatakan sebagai insiden nuklir terburuk sepanjang sejarah. Penyebabnya adalah peningkatan energi keluar (output) secara mendadak dan tak bisa dihentikan dan berujung pada ledakan di salah satu reaktor.

Sejumlah materi radioaktif terlontar ke udara dengan rasio radiasi 400 kali bom atom Hiroshima. Setelah insiden itu, 237 orang terkena penyakit radioaktif akut, 31 tewas pada tiga bulan pertama. Mereka umumnya anggota tim penyelamat yang tak mengerti bahaya radiasi.

Sumber : http://www.inilah.com/read/detail/1320922/situasi-nuklir-jepang-tak-seperti-chernobyl

Reaktor nuklir Fukushima meledak jarak aman di perluas menjadi 30 km



Tokyo
 - Jarak aman radiasi dari PLTN Fukushima meningkat akibat ledakan ketiga hari ini dari sebelumnya 20 Km menjadi 30 Km. Pemerintah Jepang pun mengimbau warga yang tinggal dalam radius itu untuk tetap tinggal di dalam ruangan.

"Warga dengan jarak antara 20-30 Km dari reaktor harus tetap tinggal di dalam ruangan," ujar Perdana Menteri Jepang Naoto Kan seperti dilansir dari Reuters, Selasa (15/3/2011).

"Sejumlah besar radiasi bocor dari area tersebut. Kami melakukan upaya maksimal untuk mencegah ledakan atau kebocoran materi radioaktif," imbuh Kan seperti dilansir dari Wall Street Journal.

Kan meminta warganya agar tenang menghadapi situasi ini dan menegaskan kembali pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah kebocoran radiasi nuklir.

Reaktor yang meledak ini adalah unit 2. Sedangkan kabakaran terjadi di reaktor unit 4. Fukushima Daiichi (Fukushima No 1) memiliki 6 reaktor yaitu unit 1 hingga 6.

Ledakan pada unit 2 ini itu menyebabkan atap wadah reaktor hancur. Uap pun membumbung memenuhi reaktor. Pemerintah Jepang mengatakan dua ledakan sebelumnya tidak sampai menimbulkan kerusakan wadah reaktor.

Sementara tingkat paparan radiasi terpantau meningkat 4 kali lipat setelah ledakan itu.

"Tingkat radiasi terbaca pada pukul 08.31 meningkat menjadi 8.217 microsievert dalam 1 jam, dari 1.941 mikrosievert pada 40 menit sebelumnya," ujar operator PLTN Fukushima Daiichi, Tokyo Electric Power Co.

Pemerintah Jepang mengatakan tingkat radiasi bisa mencapai 1 juta mikrosievert atau lebih sebelum menyebabkan penyakit akibat paparan radiasi.

Kedutaan Besar Prancis di Tokyo mengeluarkan peringatan, paparan radioaktif rendah efek ledakan di PLTN Fukushima Daiichi bisa mencapai Tokyo dalam waktu 10 jam. Hal itu bisa terjadi dengan kondisi angin yang ada sekarang.

Demikian disampaikan Kedubes Prancis di Tokyo seperti dilansir Reuters, Selasa (15/3/2011).

Kedubes Prancis juga mengingatkan warga negaranya agar tetap tinggal di dalam ruangan dan tidak panik.

Sementara Badan Meteorologi Jepang di Prefektur Fukushima mengatakan angin berhembus dengan kecepatan 2-3 meter per detik ke arah barat daya menuju wilayah Kanto, termasuk Tokyo.

Badan Meteorologi Jepang juga memperkirakan kecepatan angin akan bertambah pada Rabu besok. Angin diperkirakan akan mengarah ke selatan dengan kecepatan 3-5 meter per detik sebelum berbelok ke arah timur menuju Samudera Pasifik dengan kecepatan 5-12 meter per detik.

Sementara itu, pejabat resmi di Tokyo menyatakan, telah menemukan yodium dan cesium di udara Tokyo dalam level kecil. Tapi tidak diketahui apakah senyawa kimia itu terkait dengan ledakan di PLTN Fukushima.

Jarak PLTN Fukushima Daiichi (Fukushima No 1) ke Tokyo sekitar 225-241 km. PLTN Fukushima terletak di utara Tokyo, di sekitar pantai timur Pulau Honshu.

Reaktor yang meledak ini adalah unit 2. Sedangkan kabakaran terjadi di reaktor unit 4. Fukushima Daiichi (Fukushima No 1) memiliki 6 reaktor yaitu unit 1 hingga 6.

Ledakan pada unit 2 ini itu menyebabkan atap wadah reaktor hancur. Uap pun membumbung memenuhi reaktor. Pemerintah Jepang mengatakan dua ledakan sebelumnya tidak sampai menimbulkan kerusakan wadah reaktor.

Sementara tingkat paparan radiasi terpantau meningkat 4 kali lipat setelah ledakan itu.

"Tingkat radiasi terbaca pada pukul 08.31 meningkat menjadi 8.217 microsievert dalam 1 jam, dari 1.941 mikrosievert pada 40 menit sebelumnya," ujar operator PLTN Fukushima Daiichi, Tokyo Electric Power Co.



sumber : detiknews



Isu hujan Nuklir tersebar lewat BBM jangan di tanggapi



Jakarta
 - Bocornya reaktor nuklir di Jepang tampaknya dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyebarkan hoax. Pesan palsu tentang dampak ledakan tersebut di Indonesia pun mulai banyak menyebar melalui BlackBerry Messenger (BBM) dan Yahoo Messenger (YM).

"Dari dokter Hardi W - Jakarta
Sudah masuk tv tadi: karena kmrn ada gempa dan tsunami, Ada ledakan nuklir 16:30 Minggu di Fukushima Jepang. Jika terjadi hujan hari ini atau dalam beberapa hari ke depan, JANGAN SAMPAI TERKENA HUJAN. Jika Anda harus keluar, gunakan payung atau jas hujan, bahkan jika hanya gerimis. Karena partikel radioaktif, yang dapat menyebabkan luka bakar atau kanker alopecia mungkin terkandung dalam hujan. tolong bantu broadcast
," demikian pesan BBM yang dilaporkan Alfons, kepada detikINET, Jumat (14/3/2011).

Pesan tersebut sudah bisa dipastikan palsu. Sebab di sini pelaku coba meyakinkan para penerimanya dengan mencatut beberapa endoser, misal mengatasnamakan dokter atau stasiun televisi lokal sebagai penunjang.

"Hoaxnya seperti biasa pakai kata-kata endorser. Satu, Dr Hardi W yang tidak diketahui itu dokter apa. Kedua sudah masuk TV tadi, dan ketiga Ada ledakan Nuklir 16:30 Minggu di Fukushima Jepang. Endoser terakhir itu untuk meyakinkan orang supaya melupakan fakta bahwa Jepang itu sangat jauh dari Indonesia," pungkas Alfons. 

Reaktor nuklir Fukushima
mengalami kebocoran kecil akibat gempa dan tsunami yang melanda Jepang pada Jumat (11/3) lalu. Radius daerah yang terkena kontaminasi mencapai 20 km. Sementara, Indonesia dipastikan aman dari ancaman radiasi tersebut


Sumber : detikinet

13 Maret 2011

Efek samping dari radiasi nuklir bagi kesehatan manusia



Berikut merupakan bahaya dari dampak kebocoran radio aktif dari reaktor nuklir.
 Bencana di Jepang memicu kekhawatiran akan adanya kebocoran reaktor nuklir seperti yang terjadi di Chernobyl tahun 1986. Dampak radiasi bermacam-macam, ada yang bisa dirasakan seketika dan ada yang baru muncul dalam jangka panjang.

Kebocoran reaktor nuklir terburuk dalam sejarah terjadi di Chernobyl, Ukraina pada April 1986. Selain memicu evakuasi ribuan warga di sekitar lokasi kejadian, dampak kesehatan masih dirasakan para korban hingga bertahun-tahun kemudian misalnya kanker, gangguan kardiovaskular dan bahkan kematian.

Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan sel akibat radiasi maupun pejanan zat kimia berbahaya lainnya. Namun seperti dikutip dariFoxnews, Minggu (13/3/2011), radiasi pada tingkatan tertentu tidak bisa ditoleransi oleh tubuh dengan mekanisme tersebut.

Editor kesehatan dari Foxnews Health, Dr Manny Alvarez mengatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiganya meliputi total radiasi yang dipejankan, seberapa dekat dengan sumber radiasi dan yang terakhir adalah seberapa lama korban terpejan oleh radiasi.

Ketiga faktor tersebut akan menentukan dampak apa yang akan dirasakan para korban. Radiasi yang tinggi bisa langsung memicu dampak sesaat yang langsung bisa diketahui, sementara radiasi yang tidak disadari bisa memicu dampak jangka panjang yang biasanya malah lebih berbahaya.

Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain sebagai berikut.

  1. Mual muntah
  2. Diare
  3. Sakit kepala
  4. Demam.

Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Pusing, mata berkunang-kunang
  2. Disorientasi atau bingung menentukan arah
  3. Lemah, letih dan tampak lesu
  4. Kerontokan rambut dan kebotakan
  5. Muntah darah atau berak darah
  6. Tekanan darah rendah
  7. Luka susah sembuh.

Dampak kronis alias jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain sebagai berikut.
  1. Kanker
  2. Penuaan dini
  3. Gangguan sistem saraf dan reproduksi
  4. Mutasi genetik.

sumber : detikhealth
 

Download mp3,lirik lagu

online